Terbawa Suasana

Matahari telah berpaling , dinding kaca tepat di sebelahku tak lagi meneruskan sinarnya. Yaa.. siang ini cukup menikmati waktu dengan duduk bersama segelas ice americano di salah satu kedai yang tak cukup terkenal. Syukur saja suasananya sangat tenang, suhu ruangan yang tak begitu dingin pun tak begitu panas, wangi apel hijau dari lantai dan mejanya. Ditambah pula dengan alunan musik jazz. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Tidak banyak kata yang bisa dirangkai menjadi sebuah kalimat. Pun tidak banyak kalimat tanya yang dapat disandingkan dengan sebuah jawaban, atau gelak tawa dari sebuah perbincangan yang lucu. Duduk sendiri dengan bangku yang masih kosong disebelahnya. Bahkan sampai saya pulangpun bangkunya pasti tetap kosong, memang nyatanya saya datang sendiri dan tidak sedang menunggu kedatangan siapapun. Hanya membatin sembari menikmati pemandangan diluar dinding kaca. Tak ada hal yang istimewa, hanya sampah kertas yang numpang lewat karena dihembus angin, hanya daun yang erat di rantingnya menari mengikuti arah angin, hanya berharap.. angin dapat membawa aroma tubuhnya dari jejak yang ia tapaki hari ini.


Sesekali melirik ke arah jarum jam, sekadar ingin tahu pukul berapa sekarang. Sebatas melihat kemudian menghitung, berapa lama waktu bisa menyembuhkan. Waktu bisa menyembuhkan apapun, kecuali memulihkan keadaan sebelum ia menjadi bagian terbesar dari ingatan. Mungkin juga waktu bisa menjadi jawaban, atas tanya yang belum sempat ia jawab.

Beberapa hari belakangan ini pagi berulang dan berujung pada langit yang gelap, jelas saja, jendela hati tak kuasa menahan rasa menutup hari. Ah!! Ada apa dengan saya ini. Masih sibuk dengan kepergian seseorang. Masih menjadi masa lalu yang berharap menjadi perbincangan masa depan. Akan tetapi, masa lalu bukan berarti rasa itu telah tiada, hanya saja sewaktu-waktu membuatnya menyesali yang tlah tiada.

Sekarang pukul 15.05 wita, ingin kuhabiskan saja kopi ku dan beranjak dari kedai ini. Suasana disini luar biasa, luar biasa membuat saya nyaman mengungkit luka.

Iklan

Ruang Tunggu

Sore ini, gelak tawa itu hadir di setiap sudut tempat saya meminum secangkir kopi susu dengan metode penyeduhan secara manual, Vietnam Coffee. Sebuah novel berjudul Re: dari Maman Suherman sejak tadi menyapa saya dari dalam tas. Novel itu sengaja saya bawa dari rumah, berniat membaca novel di sore hari dengan secangkir kopi. Tapi ternyata di tempat yang sama, saya bertemu dengan beberapa teman dan merasa nyaman dengan obrolan sederhana. Yaa bacanya nanti saja kalau sudah di rumah, sekarang bergaul dulu lah hihi..

Satu demi satu pelanggan kafe itu berdatangan, tak banyak yang meninggalkan dan tak satupun duduk sendiri tanpa kawan. Suasana riuh di dalam ruangan yang tak cukup luas membuat saya tidak cukup nyaman. Meninggalkan tas dan segala peralatan di atas meja, kecuali secangkir kopi susu yang sisa setengah. Duduk di luar kafe dengan tegur sapa lembutnya asap rokok. Setidaknya tidak disesaski oleh populasi penduduk yang semakin membludak.

(2 jam 45 menit)

Membuat segala pembahasan yang sederhana menjadi luas. Menyaksikan sekumpulan om-om datang mengendarai kendaraan roda dua, mendengar percakapan mereka yang menyebut nominal mulai dari puluhan hingga ratusan juta, melihat ekspresi mereka menyebut nama beberapa orang ternama dan ditambah dengan kalimat “Oh! Teman dekatku itu.” Huh.. tak ingin berlama-lama, saya memutuskan untuk masuk dan duduk manis di tempat sejak awal kedatangan. Belum sempat saya duduk, saya melihat sebuah pesan di obrolan bersama teman-teman. Seketika tertegun lemah mendapat kabar bahwa bapak saya sakit dan sedang perjalanan ke rumah sakit.

“Bapakmu sakit, tadi mama mu yang telponka. Katanya dia telpon kau tapi nomor mu tidak aktif.” Pesan singkat dari seorang teman, saat itu baru saya sadari, bahwa sejak tadi handphone yang sengaja ditinggalkan di atas meja itu mati. Tak butuh waktu banyak saya menyusul ke rumah sakit.

Di ruang tunggu rumah sakit, tepatnya di depan ruangan dokter spesialis jantung. Tak banyak kata yang terucap, menjadi bagian dari mereka yang menunggu datangnya seorang manusia ber-jas putih. Hanya untuk menceritakan sakit yang dirasakan. Menunggu sejak jam 6 sore, terkecuali mama, bapak, dan adik-adik yang telah datang lebih dulu.

Bapak saya ialah salah satu pasien dengan kostum kantor dan wajah pucat pasih menunggu dengan amat tidak sabar. Maaf karena tidak mengindahkan ruang tunggu itu, bapak terbaring setengah tidur karena badan dan dadanya yang terasa sakit. Di sisi kaki dan kepalanya dibelai oleh anak dan istrinya, dipenuhi cinta dari keluarganya. Saya duduk dengan tegap walau sering kali buru-buru menyeka air mata.

Ketika anak beranjak dewasa, orang tua pun menjadi sangat tua.

Ketika saya duduk dan tertawa terbahak-bahak, ternyata ada seseorang yang bahkan senyumnya masih saja semu.

Ketika saya sibuk membuat sore ini sempurna, ternyata seseorang dengan cinta yang sempurna sedang meringkih kesakitan di ruang tunggu rumah sakit.

Cepat sembuh bapak 🙂

Untuk Perempuan-Perempuanku

Sejak kemarin siang, di daerahku telah turun hujan. Hujan membasahi pekarangan rumah begitupun tanaman mama yang akhir-akhir ini tidak terawat, tangga kayu depan rumah pun basah dan dipenuhi dedaunan yang tertiup angin. Dengan secangkir teh hangat, sebuah novel dari Andrea Hirata yang berjudul padang bulan, sambil mendengarkan lagu ‘cinta dari Melly Goeslaw dan Krisdayanti’ perfect! Pagi ini, di teras rumah semilir angin membuat helai demi helai rambut menutupi wajah.

Seketika terdengar bunyi khas LINE dari headset yang sedang saya kenakan. Ternyata, untuk waktu yang cukup lama, mutual chat yang berisi 6 orang perempuan (saya, kak Ria, kak Kiwa, Bebwi, Angel dan Riska) itu ramai lagi. Di awali dengan sapaan selamat pagi dari kak Ria kemudian Angel dan begitu pun yang lain menjawab sapaan itu. Dilanjutkan dengan pembahasan tentang rencana di tahun baru, terselip pesan singkat dari Angel “Weh, mauka dipindahkan di Jakarta.”

Jujur, saya turut berbahagia karena di Jakarta walaupun tak punya sanak saudara, setidaknya kekasihnya pun sedang mengadu nasib di kota itu. Tapi, untuk sedih yang menjarah dan meraja di dalam dada, tidak ada kata yang mampu mewakili. Memang betul, sukar mengenali rasa dalam kata.

Angel bukan satu-satunya orang yang menyempurnakan doa saya dengan amin nya. Angel pun bukan satu-satunya sahabat yang merentang jarak demi mengadu nasib di kampung orang. Yang pertama ada Nu, seusai menyelesaikan S1 ia pindah ke Palu. Kemudian kak Kiwa yang menjalani Program Internsip nya di Barru.

Waktu terus berjalan, kehidupan harus berlanjut, datang dan pergi akan menjadi perhiasan karena tidak akan ada yang bisa selalu berdiri tegak dihadapanmu kecuali dirimu sendiri. Semua kejadian menjadi ingatan kemudian kenangan, kenangan pun akan menunjukkan sifat aslinya yaitu menelurkan nostalgia.

image

Palu – Makassar, mungkin itu hanya sebatas jarak kota yang jelas terhitung oleh angka. April – Desember, juga sebatas waktu yang bisa kita hitung jumlah harinya. Tapi lebih dari itu semua, waktu berubah Nu. Entah itu karena keegoisan saya atau kesibukanmu. Tidak ada lagi hangatnya peluk dan ciummu. Bahkan untuk bertengkarpun, saling memaki semuanya menuju tiada. Mita rindu Nu.

image

Kak Kiwa terima kasih banyak telah menjadi dokter pribadi. Terima kasih telah mengenalkan tentang ‘Kelas Menulis Kepo’ dan terima kasih juga sudah mengenalkan hal baik dengan nasehat-nasehatnya.

Angel sayang terima kasih sudah mengenalkan saya tentang gerakan ‘Berbagi Nasi Makassar’ terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menemani saya ngopi, bahkan ketika butir air tercurah dari mata ini dengan permasalahan-permasalahan yang absurd terima kasih selalu setia menyekanya dengan pelukan.

Kepada sahabat-sahabat saya, yang sudah saya anggap sebagai saudara sendiri. Mengertilah walau sedikit, bahwa ada hati yang berkabung saat kau tiada. Pahamilah walau sedikit, bahwa ada mata yang tak lagi berbinar.

See you on the top. Love you all :*

Memetik Hikmah dari Sebungkus Nasi

image

“Sebungkus nasi tidak dapat mengubah kehidupan mereka, tapi dari sebungkus nasi kita diajarkan cara bersyukur dan lebih peka terhadap sesama” Berbagi Nasi Makassar

Di sebuah ruang tempat saya biasa meneguk secangkir kopi, menatap dinding kaca yang transparan. Terlihat seseorang berjalan seperti biasa, dengan karung lusuh di pundaknya. Matahari memancarkan sinar yang tak begitu menyengat kulit. Pagi ini, tiba-tiba saja terlintas ingatan tentang kegiatan ‘berbagi kanre pagi’.

Berbagi kanre pagi adalah salah satu kegiatan yang dilakukan setiap awal bulan oleh Berbagi Nasi Makassar, yang biasa disebut Pejuang Nasi. Kanre pagi adalah gabungan dua bahasa, kanre dalam bahasa Makassar berarti makan dan pagi dalam bahasa Indonesia yang kita sudah pahami bersama. Kanre pagi berarti makan pagi, memang kegiatan ini adalah membagikan makanan di pagi hari kepada target berbagi nasi.

Sudah dua minggu saya tidak ikut berbagi bersama yang lain, akhir-akhir ini saya agak susah membagi waktu antara pekerjaan dan kegiatan yang lain, hingga untuk ikut berbagi nasi pun sudah tak sempat. Jujur saja, ada rindu yang mengendap di hati.

Saya rindu aroma nasi bungkus yang masih mengepulkan hawa panas. Saya rindu saat-saat berbagi dengan sebungkus nasi. Saya rindu saat orang-orang mengucap “Alhamdulillah” hanya dengan sebungkus nasi.

Iya, hanya dengan sebungkus nasi dan lauk yang sederhana, sebungkus nasi yang mereka syukuri kemudian dilahap dengan hikmat. Bukankah itu cara membahagiakan diri dengan sederhana? Seperti kalimat dari salah satu pejuang nasi yang biasa dipanggil Ombal “Tak mengenal waktu, ruang dan derajat. Semuanya jatuh sepeti cahaya yang seketika membuat orang tersenyum. Tentang berbagi dengan sesama.”

Dengan sebungkus nasi saya jadi paham akan satu hal, bahwa bahagia itu tidak selamanya berkarib dengan meranggasnya nasib.

Jika seseorang dengan keterbatasan materi saja bisa bersyukur, lalu apa yang harus dikeluhkan dalam hidup? Dengan segala kecukupan materi yang dimiliki.

Di Berbagi Nasi saya bisa belajar satu hal, bahwa tidak perlu menunggu mampu untuk bisa berbagi. Di gerakan ini pula saya belajar bersyukur, bahwa rezeki tidak hanya sebatas materi. Bisa saja berupa kesehatan untuk tetap bisa berbagi.

Lalu, apa yang harus dikeluhkan dalam hidup ?

Padahal, jika kita mau sedikit saja membuka telinga dan perasaan, semua hal yang kita lalui, kita alami dan kita jalani adalah pemberian atas apa yang menjadi harapan kita.

Ya.. semuanya adalah pemberian dari apa yang kita minta, setiap detik, setiap saat, setiap tarikan nafas. Terik mentari, dinginnya malam, derasnya hujan, riuh keramaian, tawa canda, tangis duka, derita dan lara, semua adalah pemberian atas apa yang kita minta.

Lalu, apa yang harus dikeluhkan dalam hidup ?

Bukankah kita selalu punya harapan? Harapan yang baru setiap harinya. Atau, justru kita yang terlalu cepat lupa atas harapan yang telah lalu? Atau mungkin kita yang terlalu memandang nikmat kehidupan orang lain? “Saya mau ini, saya mau itu, kenapa saya seperti ini sementara dia seperti itu.”

Jadilah kita sekadar penghias mimpi-mimpi orang lain, atau kita cuma debu-debu peradaban yang terlupakan.

Padahal, kita bahkan mereka punya kuasa yang sama untuk bahagia. Semua adalah pemberian dan berkah yang membahagiakan, ketika kita mau sedikit saja membuka mata, telinga dan hati untuk mengutuhkan jiwa yang sebenarnya.

Coba lihat tawa anak kecil yang bermandikan hujan dan menari di atas comberan di pinggir jalan, lepas tanpa mengkhawatirkan demam dan masuk angin.

Atau lihatlah bagaimana seorang ayah yang menyuapi tiga anak dan satu istrinya sebungkus nasi di atas gerobak barang bekasnya berselimutkan malam.

Hidup terlalu kejam untuk sebagian orang, sementara kita menggantungkan penilaian diri atas kehidupan dari anggapan-anggapan. Hidup pun begitu indah untuk sebagian orang dan kita masih saja mengantungkan penilaian diri atas kehidupan dari anggapan-anggapan.

Lalu, apa itu bahagia ?

Cuma dibutuhkan sedikit syukur dan sabar agar mudah menemukan kebahagiaan. Kita saja yang mungkin terlalu mensyaratkan banyak hal untuk satu kata sederhana ‘Bahagia’. Atau kita yang selama ini lupa berkenalan dan mengakrabi bahagia itu.

Jika kau temukan kebahagiaanmu, lalu apa lagi yang harus dikeluhkan dalam hidup? Tuhan mu begitu dekat, bahkan lebih dekat dari nadi yang ada di lehermu.

Kau Bukan Sekadar

Tulisan ini dari seorang suami dan seorang ayah satu anak, Trijaka Perkasa yang biasa ku panggil Omjek, papa kece sektor Perintis.

Kau tahu bagaimana aku mencintaimu? Semilir belai selalu kuhargai saat demi saatnya setiap kali lelapmu menjadi bagian akhir hariku yang fana. Itu seperti dahaga yang terpuaskan kala terik tipuan menerpa jiwa yang terlanjur pun terkulai lemah.

Inginku cerita tentang keseharian yang mendera dan memaksa diriku jauh dari kemurnian hati dan ketulusan jiwa. Itu urung kulakukan karena rasa-rasanya mihnahmu jauh lebih berat dari apa yang kualami. Singgung senyummu itu selalu memanggil jiwaku yang telah jauh terpapar dari diriku, detik-detik bersamamu selalu membuatku utuh sebagaimana sejatinya.

Kau tahu bagaimana rasaku setiap kali membenamkan lelahku dalam pelukanmu untuk sekadar berlinang dalam diam dan tanpa kata? Curah lelahku kau pahami dengan bahasa semesta yang menembus langit, bahasa hati. Kita terdiam dan aku masih ingin berlama-lama dalam pelukanmu, saat itu pula aku benar-benar merasa detak jantungmu seolah berkata “Jangan bersedih, aku di sini selalu menunggu dan mencintaimu”. Dan di situlah kunikmati Surga Salam meski sejenak.

Tidak, kau bukan sekadar seseorang yang menemani hidupku. Kau bukan sekadar seseorang yang sudi melayani hari-hariku. Kau bukan sekadar seseorang yang terikat pertalian suci denganku. Pun kau bukan sekadar seseorang yang merahimi buah hatiku. Kau bukan sekadar perempuan, bahkan berani kukatakan kau bukan sekadar bidadari nirwana. Kau terlalu mulia untuk menjadi sekadar itu.

Aku bohong jika aku mengatakan siap kehilangan  segala-galanya. Aku tak pernah sanggup membayangkan bagaimana aku tanpamu. Aku pun tak pernah sanggup membayangkan jika kita tidak bersama. Aku mengerti betul betapa kehinaan diriku tak sepantasnya menodai kesucian jiwamu. Bahkan, seharusnya ada lelaki yang jauh lebih mulia dari diriku yang pantas menjadi sandaran jiwamu. Bukan aku yang lemah.

Kau menjagaku dengan kemuliaanmu.

Aku hanya tak tahu apakah kita akan dipertemukan kembali di kehidupan selanjutnya. Setiap nafasku selalu berharap semoga aku kelak menjadi hamba yang pantas disandingkan lagi denganmu di atas pelaminan cahaya di kehidupan selanjutnya.

Ayahku Sibuk

Ayah, satu kalimat yang mewakili keberadaannya ialah “No one’s gonna love you more than he does.” Cintanya bagai kalimat yang enggan diakhiri dengan tanda titik. Cintanya bagai hujan yang tak pernah ingkar pada basahnya dan malam pada gelapnya. Ayah, selalu menyeka air matanya dengan senyum.

Berulangnya pagi berlalu sore, hingga malam mempertemukan kami. Aku tahu raganya lelah bersapa dengan hari-harinya. Bahkan, kerap kali ia tak hadir bersama kami saat makan malam. Ketika yang lain sedang menjunjung tinggi akhir pekan, sering kami keluhkan atas makna yang tak disertai nyawa. Hari itu berulang, menghantarkan segala hal sederhana menjadi tua. Jika pagi itu datang lagi dan menghadirkan malam, tidakkah ayah rindu? Ayah, tak pernah sekalipun meletakkan sedihnya di pundakku, namun menggantungkan bahagianya di bibirku. Mungkin ia juga merasakan lelah, karena ia hanya manusia biasa. Mungkin ia lebih sedih dari yang kubayangkan, karena kerap kali tak bisa makan malam bersama kami dan menghadirkan nyawa disetiap akhir pekan. Namun, ia tak pernah mengeluhkannya. Saya tahu dan kami semua tahu, ia adalah ciptaan Tuhan yang bertahan dalam bisunya air mata.

Ayahku sibuk.

Waktunya dilumat oleh pekerjaan kantor. Ini semua tidak sebatas rupiah, tapi makanan yang mengenyangkan, enak dan bergizi.

Ayahku sibuk.

Mendulang rupiah dengan merentang jarak, membuat segala mantra menjadi doa. Ini semua tidak sebatas rupiah, tapi tentang tidur di atas ranjang yang empuk dan selimut hangat.

Ayahku sibuk.

Menjemput rezeki hingga malam bersahabat dengan suasana sunyi akan suara klakson. Ini semua tidak sebatas rupiah, tapi tentang ilmu yang tidak ada batasnya hingga menuntut ke negeri seberang.

Ayahku sibuk.

Ketika kami butuh dongeng pengantar tidur, ia masih bekerja. Ketika kami telah tertidur lelap, ia baru tiba di rumah. Tapi, saya tahu dan kami semua tahu, pada busana yang ia kenakan sedari pagi, diam-diam ia masuk dan mencium kening kami.

Disetiap doa, dengan setia saya menyampaikan kalimat rindu dan rasa sayang yang membuncah kepada ayah. Sama halnya saya, ayah pun berdoa. Namun ia suka menyimpan doa di dalam hatinya, bahkan disetiap doanya suara itu perlahan menghilang berganti dengan isak tangis. Ayahku, lelaki satu-satunya dan hanya satu yang selalu berusaha menunggalkan tanpa ada niat meninggalkan.

Cinta seorang ayah kepada anaknya, laksana hujan yang mengatakan cinta melalui rintik dan indahnya bagai pelangi yang mengukir huruf-huruf berbinar dalam beberapa warna. Ayah tak pernah jenuh pada detik semua terjemahan. Ayah selalu bisa menjadi penopang, bahkan ketika hati ini hancur rata dengan tanah. Cuma jika mendung itu terlukis setitik saja pada wajah kami, butir-butir air akan tercurah dari dalam hatinya.

‘Ayah, cintaku, sayangku, detak jantungku, nafasku, segalanya bagiku.’ Kalimat sederhana yang memang pantas tuk dilantunkan tepat di telinganya, namun saya malu. Maaf ayah, sampai sekarang masih malu untuk mengungkapkan cinta. Maaf ayah, selalu membuat dadamu sesak dengan segala kecemasan. Ayah membuat larangan yang sangat banyak, bahkan lebih banyak dan lebih rinci dibanding undang-undang. Saya tahu dan kami semua tahu, segenap hati ia menjaga walau dengan seribu kekhawatiran, itu hanya karena kami berharga untuknya.

Terima kasih ayah telah menjadi pahlawan walau tanpa kostum yang bercorak terang dan bersenjata canggih. Terima kasih Tuhan telah menghadirkan sosok-Mu dibalik raga yang kini menua, kulit yang mulai keriput, dan rambut yang kian menunjukkan warna aslinya. Saya tahu dan Tuhan pun tahu, bagai semesta yang mampu melihat tapi tak mampu berbicara, segala kerinduan dan kalimat cinta itu selalu memeluk kami dengan hangat walau ayahku sibuk.

AMERICANO ITU TANPA TAMBAHAN SUSU

image

Sabtu, 28 November 2015. Tanpa perayaan apa-apa dan tanpa agenda. Pagi ini hanya berkunjung ke sebuah coffee shop yang berada di daerah perintis kemerdekaan. Melangkah masuk dengan senyum efek slow motion berbalas sapa “rhapsody cafe, selamat pagi” kemudian duduk dan memesan. Seperti biasa, tanpa ada gerakan tambahan. Duduk manis bagai princess, tinggal minta kemudian abrakadabra, pesanan tiba, walau harus menunggu beberapa menit. Sejurus kemudian, beberapa orang berdatangan. Kemudian pergi dan tak kembali dalam waktu yang cukup lama. Entah malam ini, esok atau esoknya lagi.

Pagi ini, tak banyak orang duduk berlama-lama seperti saya. Tak banyak orang yang datang membawa novel, lalu duduk manis ditemani secangkir kopi dan album lama band ‘peterpan’ yang sekarang telah berubah nama menjadi noah. Tak banyak orang yang paginya hanya duduk sendiri dikelilingi bangku kosong.

Suasana yang riuh berubah menjadi sunyi. Kurung waktu yang tak cukup lama, seorang customer datang sendirian. Duduk dua meja dari meja saya. Dengan gaya cool nya, dia tiba-tiba memesan, dengan kalimat “kak, americano, susunya pisah ya.” Sekelebat awan hitam mengambang sejengkal dari atas kepala, hujan meteor, badai pasir, saya syok! Haha, sebenarnya tidak selebay itu sih. Tapi, setahu saya isi dari americano itu hanya espresso dan hot water, kalau pun kita ingin menambahkan unsur pemanis yaa gula lah pemanisnya. Kecuali pesannya kopi susu kemudian susunya dipisah ya bisa jadi, dan memang bisa, iya bisa.

image

Saya tidak tahu banyak tentang kopi. Saya hanya suka nongkrong ditempat ngopi, suka minum kopi, sampai jatuh cinta dengan peracik kopi, peracik kopi yang ada di film ‘filosofi kopi’ maksudnya^^ Oh iya, tentang americano. Dibeberapa tempat menyebutnya long black. Secara kasat mata sih sebenarnya sama saja, cuma beda di metode. Americano itu espresso terlebih dahulu kemudian hot water, sedangkan long black itu hot water dahulu lalu espresso, dengan alasan yang masuk akal. Agar crema-nya tidak hancur. Teruntuk americano biasanya kita menggunakan lungo. Why? Kembali lagi ke prinsip awal, agar crema-nya tidak hancur. Karena, crema adalah salah satu indikator yang dapat menunjukkan bahwa kopi itu terekstraksi dengan sempurna. Dan menurut saya, crema masih jauh lebih indah dibanding art yang dihasilkan dari foam.

Wah, malah panjang lebar soal kopi haha. Semoga tidak ada lagi orang yang seperti dicerita saya pagi ini. Ibarat ingin menikah, tapi tak tau ingin menikah dengan siapa, huh! Jadi, tidak ada yang salah dari ‘selera’ tapi ada baiknya mengetahui apa yang ingin diminum, ketahui namanya, ketahui indikatornya.

Coffee is the drink of heaven. Enjoy ur coffee.