KU TUNGGU DIRIMU

image

Hari-hari yang tak lagi sama, memulai hari dengan cara berbeda. Menghadirkan semangat tanpa semangatmu. Mencoba tersenyum tanpa senyummu. Mengapa semua berbeda? Mengapa semua tak lagi sama? Mengapa hadirmu semakin samar bahkan berakhir tak ada?

Mencoba mempertanyakan pada angin yang membawa aroma tubuhmu.

Mencari tau dari jejak yang ku tapaki hari ini.

Memandang embun di jendela luarku yang menuju tiada. Namun tak kudapati dirimu.

Ada lelah diraga ini. Lelahku dalam bertanya dan mencari tau. Dan kusadari bahwa lebih baik lelah memperjuangkan daripada lelah sekedar menunggu.

Kau tau dihati ini ada apa, kau bahkan tau lebih dari si pemilik hati. Namun kau tak cukup mengerti. Pada akhirnya ku biasakan diriku tanpa dirimu. Kulangkahkan kaki ku tanpa langkahmu. Bahkan kucoba untuk duduk tak bersanding denganmu. Semua perlahan membaik, tapi tidak cukup baik.

Mengertilah walau sedikit bahwa ada hati yang berkabung saat kau tiada. Pahamilah walau sedikit bahwa ada mata yang tak lagi berbinar.

Menyimak lagu di coffee shop, menjatuhkan harapan pada orang-orang yang berdatangan. Menyimak lagu di coffee shop, membuat semua kata rindu menjadi senyum tanpa sapaan. Menyimak lagu di coffee shop, memperkenalkan sepi pada hadirmu yang tak berujung memiliki. Menyimak lagu di coffee shop, menyembunyikan duka dibalik pahitnya secangkir americano tanpa gula.

Jika kau tak bisa menghadirkan pelangi, setidaknya jangan kau ukir mendung pada dia yang berkawan dengan rindu. Ku tunggu dirimu, sambil menyimak lagu di coffee shop.

Namun, pergilah jika kau ingin pergi tapi jangan kau bawa separuh nafasku. Pergilah jika kau ingin pergi, jangan kau sisakan kenangan dalam ingatan. Pergilah jika kau ingin pergi, takkan kurasa kehilangan jika kau tak merasa pernah memiliki. Pergilah sejauh mungkin agar tak lagi kudapati kau sebagai luka. Pergilah walaupun hatiku tak ingin kau pergi. Pergilah dengan hati yang membuatmu berhenti untuk mencari.

Namun, jika kau pergi dan kembali lagi. Takkan ku tanyakan tentang kepergianmu, hanya saja menangisi hal yang sama tak semudah menertawakan lelucon yang sama.

Ku relakan kau pergi namun tetap saja ku tunggu dirimu.

Disini, ditempat yang sama walau rasa tak lagi sama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s