RINDU YANG KU LIPAT GANDAKAN DENGAN JUMLAH YANG TAK TERHINGGA

“Cemburu adalah cinta yang mengkal. Menaruh curiga, sekaligus berharap perasaannya salah.” – Po Lei Xia

Sama seperti di hari kemarin. Memulai hari tanpa sapa -mu. Melihat senyummu akrab dengan kalimat manja wanita -mu. Sungai air mata pun mengalir. Terik matahari membuatku menggigil, tak percaya. Angin membawaku pergi bagai daun kering.

Terhempas, dengan kisah klasik ‘daun yang tak pernah menyalahkan angin’.

Tepatnya, kau seperti buku yang sedang ku selesaikan. Melihat senyummu disetiap lembarnya, hingga lupa, dilembar keberapa aku jatuh cinta. Pada akhirnya, akan datang waktu. Menyelesaikan tanpa menyesalkan. Menaruhmu dengan rapi, pada rak yang kusebut masa lalu. Tertumpuk kenangan lalu membuat genangan, sungai air mata itu nyata bukan.

Oh tuhan.. Ada perih yang tertanam. Semakin lama, semakin perih.

“Bisakah sedikit remah senyum itu nyata ku miliki ?”

Sedikit saja.
Tak perlu semua, karna cinta yang kembali takkan seperti semula.

Sedikit saja.
Tak perlu semua, karna yang mencintaimu tidak hanya aku, dia pun juga.

Sedikit saja.
Tak perlu semua, karna ku tau, kau belum siap untuk menjalin sebuah ikatan.

Angin malam selalu membawa aroma tubuhmu, dan hal itu takkan ku lewatkan. Malamku selalu terjaga. Untukmu, semuanya indah tak terperi.

Karena, semua telah berubah. Kau tak lagi duduk tepat disebelahku. Tak lagi manja dihadapanku. Ketahuilah, doa yang sama, masih untukmu. Semua tak lagi sama. Walau kau menjalani peran yang sama, tapi tak lagi denganku. Ketahuilah, tatapan ini tak pernah berkhianat, dari semua rindu. Berharap pertemuan tanpa perpisahan. Lagi.

Mungkin salahmu atau benar itu salahku, tapi.. kenapa harus berjanji menunggalkan nyatanya meninggalkan ?

Lagi pula, sebenarnya bukan ‘kenapa kau begitu’ harusnya ‘ada apa denganku, sampai kau begitu’. Kalau bisa, uraikan kesalahanku. Busuk-busuk pun akan ku terima. Walau akhirnya semua harus seperti ini adanya. Setidaknya, kemarin, kau ada sebagai pembelajaran. Bukan sebatas ampas kopi yang didiamkan dan akhirnya menjamur, busuk dan terbuang.

“Jika yang merindu adalah dada. Mengapa sakitnya di sekujur raga ?”

Ah rindu, ku lipat gandakan dengan jumlah yang tak terhingga. Menaruh harap pertemuan itu nyata disertai pelukmu yang sama seperti kemarin. Sialnya. Kau terlalu membuat hati ini tak bisa memilih. Kalaupun pilihan itu ada, pasti objek utamanya yaa nama mu.

Semoga kau baik-baik saja, tetap hangat dalam dekapan yang lain. Senyummu merekah walau harus dengannya. Bahagiamu ku raih dari orang lain. Tak apa. Setidaknya, embun tahu bahwa sebenarnya segenap bahagiamu adalah candu bagiku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s