Ayahku Sibuk

Ayah, satu kalimat yang mewakili keberadaannya ialah “No one’s gonna love you more than he does.” Cintanya bagai kalimat yang enggan diakhiri dengan tanda titik. Cintanya bagai hujan yang tak pernah ingkar pada basahnya dan malam pada gelapnya. Ayah, selalu menyeka air matanya dengan senyum.

Berulangnya pagi berlalu sore, hingga malam mempertemukan kami. Aku tahu raganya lelah bersapa dengan hari-harinya. Bahkan, kerap kali ia tak hadir bersama kami saat makan malam. Ketika yang lain sedang menjunjung tinggi akhir pekan, sering kami keluhkan atas makna yang tak disertai nyawa. Hari itu berulang, menghantarkan segala hal sederhana menjadi tua. Jika pagi itu datang lagi dan menghadirkan malam, tidakkah ayah rindu? Ayah, tak pernah sekalipun meletakkan sedihnya di pundakku, namun menggantungkan bahagianya di bibirku. Mungkin ia juga merasakan lelah, karena ia hanya manusia biasa. Mungkin ia lebih sedih dari yang kubayangkan, karena kerap kali tak bisa makan malam bersama kami dan menghadirkan nyawa disetiap akhir pekan. Namun, ia tak pernah mengeluhkannya. Saya tahu dan kami semua tahu, ia adalah ciptaan Tuhan yang bertahan dalam bisunya air mata.

Ayahku sibuk.

Waktunya dilumat oleh pekerjaan kantor. Ini semua tidak sebatas rupiah, tapi makanan yang mengenyangkan, enak dan bergizi.

Ayahku sibuk.

Mendulang rupiah dengan merentang jarak, membuat segala mantra menjadi doa. Ini semua tidak sebatas rupiah, tapi tentang tidur di atas ranjang yang empuk dan selimut hangat.

Ayahku sibuk.

Menjemput rezeki hingga malam bersahabat dengan suasana sunyi akan suara klakson. Ini semua tidak sebatas rupiah, tapi tentang ilmu yang tidak ada batasnya hingga menuntut ke negeri seberang.

Ayahku sibuk.

Ketika kami butuh dongeng pengantar tidur, ia masih bekerja. Ketika kami telah tertidur lelap, ia baru tiba di rumah. Tapi, saya tahu dan kami semua tahu, pada busana yang ia kenakan sedari pagi, diam-diam ia masuk dan mencium kening kami.

Disetiap doa, dengan setia saya menyampaikan kalimat rindu dan rasa sayang yang membuncah kepada ayah. Sama halnya saya, ayah pun berdoa. Namun ia suka menyimpan doa di dalam hatinya, bahkan disetiap doanya suara itu perlahan menghilang berganti dengan isak tangis. Ayahku, lelaki satu-satunya dan hanya satu yang selalu berusaha menunggalkan tanpa ada niat meninggalkan.

Cinta seorang ayah kepada anaknya, laksana hujan yang mengatakan cinta melalui rintik dan indahnya bagai pelangi yang mengukir huruf-huruf berbinar dalam beberapa warna. Ayah tak pernah jenuh pada detik semua terjemahan. Ayah selalu bisa menjadi penopang, bahkan ketika hati ini hancur rata dengan tanah. Cuma jika mendung itu terlukis setitik saja pada wajah kami, butir-butir air akan tercurah dari dalam hatinya.

‘Ayah, cintaku, sayangku, detak jantungku, nafasku, segalanya bagiku.’ Kalimat sederhana yang memang pantas tuk dilantunkan tepat di telinganya, namun saya malu. Maaf ayah, sampai sekarang masih malu untuk mengungkapkan cinta. Maaf ayah, selalu membuat dadamu sesak dengan segala kecemasan. Ayah membuat larangan yang sangat banyak, bahkan lebih banyak dan lebih rinci dibanding undang-undang. Saya tahu dan kami semua tahu, segenap hati ia menjaga walau dengan seribu kekhawatiran, itu hanya karena kami berharga untuknya.

Terima kasih ayah telah menjadi pahlawan walau tanpa kostum yang bercorak terang dan bersenjata canggih. Terima kasih Tuhan telah menghadirkan sosok-Mu dibalik raga yang kini menua, kulit yang mulai keriput, dan rambut yang kian menunjukkan warna aslinya. Saya tahu dan Tuhan pun tahu, bagai semesta yang mampu melihat tapi tak mampu berbicara, segala kerinduan dan kalimat cinta itu selalu memeluk kami dengan hangat walau ayahku sibuk.

Iklan

4 thoughts on “Ayahku Sibuk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s