Untuk Perempuan-Perempuanku

Sejak kemarin siang, di daerahku telah turun hujan. Hujan membasahi pekarangan rumah begitupun tanaman mama yang akhir-akhir ini tidak terawat, tangga kayu depan rumah pun basah dan dipenuhi dedaunan yang tertiup angin. Dengan secangkir teh hangat, sebuah novel dari Andrea Hirata yang berjudul padang bulan, sambil mendengarkan lagu ‘cinta dari Melly Goeslaw dan Krisdayanti’ perfect! Pagi ini, di teras rumah semilir angin membuat helai demi helai rambut menutupi wajah.

Seketika terdengar bunyi khas LINE dari headset yang sedang saya kenakan. Ternyata, untuk waktu yang cukup lama, mutual chat yang berisi 6 orang perempuan (saya, kak Ria, kak Kiwa, Bebwi, Angel dan Riska) itu ramai lagi. Di awali dengan sapaan selamat pagi dari kak Ria kemudian Angel dan begitu pun yang lain menjawab sapaan itu. Dilanjutkan dengan pembahasan tentang rencana di tahun baru, terselip pesan singkat dari Angel “Weh, mauka dipindahkan di Jakarta.”

Jujur, saya turut berbahagia karena di Jakarta walaupun tak punya sanak saudara, setidaknya kekasihnya pun sedang mengadu nasib di kota itu. Tapi, untuk sedih yang menjarah dan meraja di dalam dada, tidak ada kata yang mampu mewakili. Memang betul, sukar mengenali rasa dalam kata.

Angel bukan satu-satunya orang yang menyempurnakan doa saya dengan amin nya. Angel pun bukan satu-satunya sahabat yang merentang jarak demi mengadu nasib di kampung orang. Yang pertama ada Nu, seusai menyelesaikan S1 ia pindah ke Palu. Kemudian kak Kiwa yang menjalani Program Internsip nya di Barru.

Waktu terus berjalan, kehidupan harus berlanjut, datang dan pergi akan menjadi perhiasan karena tidak akan ada yang bisa selalu berdiri tegak dihadapanmu kecuali dirimu sendiri. Semua kejadian menjadi ingatan kemudian kenangan, kenangan pun akan menunjukkan sifat aslinya yaitu menelurkan nostalgia.

image

Palu – Makassar, mungkin itu hanya sebatas jarak kota yang jelas terhitung oleh angka. April – Desember, juga sebatas waktu yang bisa kita hitung jumlah harinya. Tapi lebih dari itu semua, waktu berubah Nu. Entah itu karena keegoisan saya atau kesibukanmu. Tidak ada lagi hangatnya peluk dan ciummu. Bahkan untuk bertengkarpun, saling memaki semuanya menuju tiada. Mita rindu Nu.

image

Kak Kiwa terima kasih banyak telah menjadi dokter pribadi. Terima kasih telah mengenalkan tentang ‘Kelas Menulis Kepo’ dan terima kasih juga sudah mengenalkan hal baik dengan nasehat-nasehatnya.

Angel sayang terima kasih sudah mengenalkan saya tentang gerakan ‘Berbagi Nasi Makassar’ terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menemani saya ngopi, bahkan ketika butir air tercurah dari mata ini dengan permasalahan-permasalahan yang absurd terima kasih selalu setia menyekanya dengan pelukan.

Kepada sahabat-sahabat saya, yang sudah saya anggap sebagai saudara sendiri. Mengertilah walau sedikit, bahwa ada hati yang berkabung saat kau tiada. Pahamilah walau sedikit, bahwa ada mata yang tak lagi berbinar.

See you on the top. Love you all :*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s