Ruang Tunggu

Sore ini, gelak tawa itu hadir di setiap sudut tempat saya meminum secangkir kopi susu dengan metode penyeduhan secara manual, Vietnam Coffee. Sebuah novel berjudul Re: dari Maman Suherman sejak tadi menyapa saya dari dalam tas. Novel itu sengaja saya bawa dari rumah, berniat membaca novel di sore hari dengan secangkir kopi. Tapi ternyata di tempat yang sama, saya bertemu dengan beberapa teman dan merasa nyaman dengan obrolan sederhana. Yaa bacanya nanti saja kalau sudah di rumah, sekarang bergaul dulu lah hihi..

Satu demi satu pelanggan kafe itu berdatangan, tak banyak yang meninggalkan dan tak satupun duduk sendiri tanpa kawan. Suasana riuh di dalam ruangan yang tak cukup luas membuat saya tidak cukup nyaman. Meninggalkan tas dan segala peralatan di atas meja, kecuali secangkir kopi susu yang sisa setengah. Duduk di luar kafe dengan tegur sapa lembutnya asap rokok. Setidaknya tidak disesaski oleh populasi penduduk yang semakin membludak.

(2 jam 45 menit)

Membuat segala pembahasan yang sederhana menjadi luas. Menyaksikan sekumpulan om-om datang mengendarai kendaraan roda dua, mendengar percakapan mereka yang menyebut nominal mulai dari puluhan hingga ratusan juta, melihat ekspresi mereka menyebut nama beberapa orang ternama dan ditambah dengan kalimat “Oh! Teman dekatku itu.” Huh.. tak ingin berlama-lama, saya memutuskan untuk masuk dan duduk manis di tempat sejak awal kedatangan. Belum sempat saya duduk, saya melihat sebuah pesan di obrolan bersama teman-teman. Seketika tertegun lemah mendapat kabar bahwa bapak saya sakit dan sedang perjalanan ke rumah sakit.

“Bapakmu sakit, tadi mama mu yang telponka. Katanya dia telpon kau tapi nomor mu tidak aktif.” Pesan singkat dari seorang teman, saat itu baru saya sadari, bahwa sejak tadi handphone yang sengaja ditinggalkan di atas meja itu mati. Tak butuh waktu banyak saya menyusul ke rumah sakit.

Di ruang tunggu rumah sakit, tepatnya di depan ruangan dokter spesialis jantung. Tak banyak kata yang terucap, menjadi bagian dari mereka yang menunggu datangnya seorang manusia ber-jas putih. Hanya untuk menceritakan sakit yang dirasakan. Menunggu sejak jam 6 sore, terkecuali mama, bapak, dan adik-adik yang telah datang lebih dulu.

Bapak saya ialah salah satu pasien dengan kostum kantor dan wajah pucat pasih menunggu dengan amat tidak sabar. Maaf karena tidak mengindahkan ruang tunggu itu, bapak terbaring setengah tidur karena badan dan dadanya yang terasa sakit. Di sisi kaki dan kepalanya dibelai oleh anak dan istrinya, dipenuhi cinta dari keluarganya. Saya duduk dengan tegap walau sering kali buru-buru menyeka air mata.

Ketika anak beranjak dewasa, orang tua pun menjadi sangat tua.

Ketika saya duduk dan tertawa terbahak-bahak, ternyata ada seseorang yang bahkan senyumnya masih saja semu.

Ketika saya sibuk membuat sore ini sempurna, ternyata seseorang dengan cinta yang sempurna sedang meringkih kesakitan di ruang tunggu rumah sakit.

Cepat sembuh bapak 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s